Malam Itu Bersama Bintang Jatuh di Kesunyian Pantai Buyutan

Bersama Bintang Jatuh Di Pantai Buyutan

Mengunjungi pantai Buyutan bersama dengan kawan – kawan yang menyenangkan saat itu adalah perjalanan yang sempurna buat saya.

Pantai Buyutan adalah salah satu pantai di Pacitan. Meski tidak se – terkenal pantai Klayar namun mengunjungi pantai ini sangat berkesan bagi saya dan teman – teman.

Saya masih ingat betul waktu itu adalah satu hari menjelang Natal, tepatnya tanggal 24 Desember 2010.

Kami bersepuluh, Uje, Ruli, Listia, Rina, Lia, Reza, Danu, Khrisna, Madhan dan saya sendiri melakukan perjalanan yang bisa dibilang cukup nekat ke pantai Buyutan.

Bagaimana tidak, satu jam sebelum keberangkatan saya masih bimbang apakah turut serta atau tidak. Sebuah keputusan impulsif pada akhirnya saya ambil bagian dalam perjalanan itu.

Kami berangkat sekitar jam 3 sore. Padahal jarak Solo ke desa Widoro, lokasi pantai Buyutan sangatlah jauh.

Sekitar 4 jam perjalanan karena rute yang harus memutar. 4 jam itu normalnya, tapi perjalanan kami lebih lama dari itu karena harus berkali – kali bertanya pada warga.

Saya tidak begitu paham dengan jalan jadi hanya mengikuti saja dari belakang.

Lelah dan pegal rasanya karena harus membawa motor dengan membonceng seorang teman. Apalagi ketika sudah dekat ke lokasi, jalannya sangat sulit, berbatu dan berkelok – kelok.

Benar – benar sebuah perjuangan untuk bisa menginjakkan kaki di pantai Buyutan.

Sampai di lokasi, hari sudah gelap. Untuk bisa mencapai bibir pantai, kami masih harus turun dari semacam tebing yang berbatasan dengan sawah – sawah.

Nah, satu lagi keunikan dari pantai ini yang tidak dimiliki pantai lain.

Saya masih teringat dengan sawah yang menguning dipadu dengan view laut yang membiru di bawah sana. Kami bisa menyaksikan semua itu saat pagi.

Sungguh pemandangan yang tidak bisa terungkapkan dengan kata – kata.

Namun karena hari itu sudah malam, kami tidak bisa menyaksikan apapun jadi kami memutuskan untuk mendirikan tenda di atas tebing saja.

Walaupun sudah ada tenda, tak ada satu pun dari kami yang merelakan malam itu untuk tidur cepat.

Sambil bermain kartu dan meneguk kopi hangat, kami berbincang tentang banyak hal. Tentang kuliah, pengalaman travelling dan banyak hal lain yang tidak saya ingat semuanya.

Bukan isi dari percakapan itu yang penting, namun kebersamaan kami di alam bisa membuat kami merasakan lebih dekat satu sama lain.

Di bawah langit gelap dan bintang yang terlihat ribuan jumlahnya itu kami menghabiskan malam.

Terkadang kami terpekik riang ketika melihat ada banyak bintang jatuh yang melintas di kegelapan.

Tak sempat kami mengucap permohonan, karena tak ada hal yang lebih kami inginkan di malam itu selain kebersamaan.

Malam semakin larut dan membawa kami ke alam mimpi.

Beralaskan matras, beberapa teman terutama yang laki – laki memilih untuk tidur di luar tenda sedangkan saya yang merasa kedinginan berjingkat segera ke dalam tenda bersama beberapa teman wanita.

Baca juga :

Pagi terlalu cepat datang, saya tidak sempat melihat sunrise begitu pun dengan teman yang lain.

Setelah memastikan semua barang dalam keadaan aman untuk sementara ditinggalkan, kami segera turun tebing untuk menuju pantai.

Kami berlari tak sabar ketika menginjakkan kaki di pasir putih.

Pantai ini benar – benar indah. Airnya sangat biru dan jernih, biota laut dan karang di dalam air terlihat jelas. Sedangkan agak ke tengah sana ada sebuah batu besar yang berbentuk seperti mahkota.

Di sisi yang lain tebing – tebing menjulang dengan gagahnya.

Pantai ini seperti pantai perawan. Saat kami kesana, kami tak bertemu seorang pun pengunjung lain.

Kami bebas berlari kesana kemari dan mengambil beberapa gambar untuk kenang – kenangan. Menyelam ke dalam air pun sangat aman karena di sini hampir tak ada ombak.

Namun, tetap harus berhati – hati karena ada karang yang tajam.

Pantai Buyutan adalah salah satu pantai terindah yang pernah saya datangi.

Laut yang biru, sawah menguning, bintang jatuh dan yang terpenting adalah teman – teman seperjalanan yang menyempurnakan semuanya keindahannya.

Angesti Yustika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *