Edelweiss Beku Saksi Bisu Perjalanan Ke Gunung Sindoro

Kisah Pendakian Gunung Sindoro

Perjalanan ke gunung Sindoro ini kami lakukan sekitar tahun 2010, waktu itu saya masih menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Solo.

Pada tahun segitu, kami banyak waktu luang, masih belum banyak hal yang harus kami kerjakan. Paling hanya kuliah, main, jajan dan pulang ke rumah.

Begitu saja setiap hari.

Saat itu sedang liburan semester, libur yang sangat panjang. Kami menyusun sebuah acara pendakian. Lebih tepatnya, saya hanya ikut – ikutan, karena destinasi sudah ditentukan, saya hanya terima beres dan berangkat saja.

Gunung Sindoro adalah tujuan kami. Teman – teman memutuskan untuk naik bus umum dan lagi – lagi saya hanya ikut.

Saat pendakian tiba, saya, Yani, Rina dan beberapa teman yang lain berjumlah tujuh orang berkumpul di terminal Tirtonadi, Solo.

Untuk sampai ke basecamp gunung Sindoro yang berada di Temanggung, kami harus naik bis jurusan Wonosobo. Perjalanan kami normalnya akan menghabiskan waktu sekitar 4,5 jam.

Kami menunggu di pintu keluar bus, waktu itu masih diperbolehkan kalau langsung naik dari pintu keluar, nggak tau kalau sekarang.

Lalu ada satu bus jurusan Bawen yang lewat, kernetnya bilang “ini bus terakhir lho” ( Beberapa waktu setelah itu saya baru tau kalau kernet memang selalu bilang seperti itu agar penumpang mau naik ).

Karena khawatir tidak mendapat bus lagi, kami naik saja dan ternyata bus nya penuh. Kami tidak mendapat tempat duduk dan harus berdiri sampai Bawen, agak pegel juga sih.

Sekitar 3 jam kemudian, kami sampai di Bawen dan langsung mendapat bus ke Temanggung. Untung busnya lega, kami bisa mendapat tempat duduk untuk tidur. Kami butuh stamina lebih untuk mendaki besok.

Tiba di Temanggung jam 7 malam. Udara dingin sekali waktu itu. Begitu turun dari bus, kami disambut pemandangan menakjubkan di depan sana.

Karena sudah gelap, Sindoro hanya terlihat seperti kerucut raksasa yang berdiri megah menjulang. Dari sini Sindoro terlihat tidak terlalu tinggi, namun beberapa hari setelah itu saya jadi berpikir ulang.

Langit yang hitam ditaburi bintang – bintang yang banyak, benar – benar sangat banyak. Serius, saya dan teman – teman sampai ternganga karena kagum.

Kalau sekarang di kota ini, saya biasanya cuman bisa melihat satu dua bintang saja kalau malam. Mungkin tertutup oleh polusi, mungkin juga tersamarkan oleh lampu – lampu ibukota yang gemerlap.

Baca juga :

Kami menuju basecamp Sindoro untuk istirahat malam ini.

Setelah makan, kami mencoba untuk tidur sejenak. Tapi waktu itu tidak bisa tidur nyenyak, hawa dingin dan tidak adanya kasur menjadi penyebabnya.

Kami hanya tidur beralaskan tikar yang sangat tipis sekali, lebih tepatnya mungkin ( mohon maaf ) sudah kurang layak dipakai.

Perlahan mata saya terasa berat hingga akhirnya terpejam.

Jam 9 pagi, kami berdoa dan memulai pendakian. Untuk perempuan tidak membawa terlalu banyak barang. Cuma bahan makanan yang ditempatkan di tas yang tidak terlalu besar.

Yang laki – laki membawa carrier yang besar. Isinya nesting, 2 tenda dan peralatan kelompok lainnya.

Melewati perkebunan tembakau, kami masih bisa tertawa – tawa dan sering berfoto. Kami tidak tau bahwa perjalanan yang kami tempuh masih sangat panjang dan penuh perjuangan.

Setelah mencapai pos satu, agak ngos – ngosan juga karena jalan mulai naik.

Saya gengsi, masih berusaha untuk tertawa – tawa bahkan sesekali berlari. Tak berapa lama, ada teman yang mulai kepayahan sampai sudah lemas sekali.

Kami cukup banyak break waktu itu, bisa dibilang terlalu banyak. Namun, ketika ada teman yang kewalahan memang jangan dipaksakan.

Sambil istirahat kami makan coklat, biscuit dan perbekalan yang ada.

Sindoro itu bagus, benar – benar bagus. Tidak perlu sampai puncak dulu untuk bisa menikmati pesonanya. Tipikla jalur pendakian Sindoro seingat saya terbuka, jadi tidak tertutup oleh rimbunan pohon.

Sambil mendaki, saya bisa melihat dan mengagumi pemandangan kota yang terbentang di bawah sana.

Menjelang petang, kami bisa melihat senja yang luar biasa indah.

Saya adalah penyuka senja, saya bisa mendadak jadi melankolis kalau sudah melihat senja, apalagi senja di tempat yang seindah ini.

Kami berhenti sejenak, banyak bercakap tentang senja, dan tak lupa berfoto – foto.

Melanjutkan perjalanan lagi dan sampai suatu titik kami harus membagi dua tim.

Jadi satu tim jalan lebih duluan untuk mencari tanah yang lapang agar bisa membangun tenda. Satu tim lagi yang di dalamnya ada saya jalan di belakang karena ada satu teman yang sudah lelah.

Saya ingat sekali waktu itu ada suatu momen di saat sesak nafas teman satu tim kambuh. Obatnya ada di tas, dan sialnya, tas teman saya itu sudah dibawa oleh tim pertama yang naik duluan.

Teman saya yang lain berinisiatif untuk menyusul tim pertama untuk mengambilkan obat dan memberikannya pada teman yang sakit.

Padahal kami tertinggal cukup lama dan pasti tim pertama sudah berjalan cukup jauh di depan.

Waktu itu adalah saat yang luar biasa bagi kami.

Di tengah keadaan yang mendesak dan membuat kami tertekan, kami harus segera mengambil keputusan. Kalau salah, bisa fatal akibatnya.

Asal tau saja, hawa gunung Sindoro malam itu sangat dingin. Jika terlalu lama berhenti tubuh terasa beku. Apalagi saat itu sudah malam dan kami tidak di dalam tenda.

Untunglah situasi tersebut bisa segera diatasi.

Setelah obat di bawa turun dan diberikan kepada teman yang sakit, perlahan bisa melanjutkan perjalanan dan sampailah kami di tenda yang sudah didirikan.

Tim pertama telah mendirikan dua tenda yang berdampingan untuk wanita dan pria. Malam itu kami tidur dengan kedinginan dan kelelahan hingga pagi.

Momen yang sangat langka dalam hidup saya ketika saya bisa mendapatkan sunset dan sunrise sekaligus dalam satu pendakian.

Saya mendapatkan keduanya di Gunung Sindoro.

Sunrise Sindoro salah satu sunrise terindah dalam perjalanan saya selama ini.

Cahaya keemasan dengan semburat oranye di langit memancarkan kilauan sinarnya ditimpa embun di ujung – ujung edelweiss.

Saat itu adalah pagi yang sangat dingin. Bahkan embun yang menempel di edelweiss pun terlihat membeku, cantik sekali.

Demi mendapatkan puncak, kami bergegas melanjutkan perjalanan yang tertunda.

Singkat kata, kami sampai di puncak. Semuanya, lengkap tujuh orang. Kami saling bersalaman satu sama lain dan mengucapkan selamat karena telah melewati semua ini bersama – sama.

Terimakasih Sindoro, terimakasih teman – teman. Kalian semua telah mengajariku sebuah arti perjuangan dan persahabatan.

Perjalanan turun dari Sindoro bukanlah hal yang mudah.

Kami terkena badai dan saya sudah sangat kelelahan. Saya hanya berusaha untuk meluncur di atas tanah yang basah dan licin.

Namun dengan segala penyertaan dari Tuhan mulai dari teman yang sakit, hingga hujan badai, kami masih bisa kembali dengan selamat.

Semoga kita bisa bertemu lagi, edelweiss yang beku di tanah Sindoro.

Angesti Yustika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *