2 Malam di Gunung Lawu via Cetho, Banyak Hal Keren Yang Saya Temukan

Pendakian gunung Lawu via Cetho ini sebenarnya rencana lama yang tertunda, sekaligus janji kepada sahabat yang tak kunjung terpenuhi. Duh, ngga enak rasanya. Tapi apa daya, waktu belum memihak.

Hingga suatu ketika ada ajakan kumpul teman-teman sesama advertiser di Solo. Nah, pikir saya, mungkin ini timing yang pas. Seusai kumpul, saya bisa lanjut pendakian ke Lawu bersama Andri. Melunasi hutang.

Tak pikir panjang, saya membeli tiket KA Lodaya PP Bandung-Solo-Bandung. Trip kali ini terhitung mahal. Ongkos kereta PP aja 500.000. Tapi tak apa, setelah menjalani pendakian kali ini, ngga ada rasa sesal secuil pun atas biaya mahal yang sudah keluar.

Ini adalah pendakian terbaik saya.

Singkat cerita, saya bertolak menuju Jawa Tengah tanggal 25 Maret 2019 menggunakan KA ekonomi Lodaya dari stasiun Bandung. Perjalanan dimulai pukul 18.55 hingga 03.55 esoknya tiba di Solo Balapan.

Karena berangkat hari Kamis, maka gerbong kereta lebih lengang dari biasanya. Banyak kursi kosong di sekitar. Termasuk saya pun duduk sendirian sepanjang perjalanan. Ahh, awal yang baik.

Dari Solo ke Karanganyar

Setibanya di Solo Balapan, saya menunggu sekitar 45 menit untuk dijemput Andri. Yap, Andri sudah menetap dan bekerja di Karanganyar. Jadi diputuskan saya singgah sebentar, sembari beristirahat.

Toh rencana kami memang akan memulai pendakian siang hari, setelah selesai sholat Jum’at. Maka dari itu, kita memang berencana untuk melakukan pendakian selama 3 hari 2 malam.

Selain karena waktu pendakian yang dimulai siang hari, jalur Cetho adalah yang terpanjang. Saya bukan tipe pendaki yang suka berburu waktu. Saya ingin menikmati alam lebih santai dan lebih lama.

Tiba di kos Andri sekitar jam 7 pagi, setelah sebelumnya mampir sarapan di warteg tepian jalan. Makan masakan khas Jawa Tengah pagi hari, ahh benar-benar nikmat rasanya. Plus murah, hahaha.

Andri melanjutkan aktivitasnya ke kantor sebentar, dan saya berbelanja logistik di swalayan seberang. Oiya, sistem pendakian kali ini adalah pendakian mandiri. Semua diurus masing-masing.

Satu-satunya yang digunakan bersamaan hanya tenda.

Saya memang sedang “hijrah” menuju konsep Ultralight hiking, lebih ringan tanpa mengabaikan keamanan. Setelah kemarin diterapkan saat solo hiking ke Sindoro, saya merasa lebih mantap dan yakin saat ke Lawu.

Menuju Gunung Lawu via Cetho

Selepas sholat Jumat sekitar jam 12.30, saya dan Andri langsung meluncur ke basecamp pendakian gunung Lawu via candi Cetho. Perjalanan dengan motor ditempuh sekitar 1 jam dari Karanganyar.

Di basecamp tak banyak yang kami lakukan, hanya membeli 2 botol air kecil dan mengurus simaksi. Di jalur cetho ada sumber air di pos 3, dan di Gupakan Menjangan juga ada cerukan yang menampung air hujan.

Gerbang pendakian gunung Lawu via Cetho
Gerbang pendakian

Saya memulai pendakian hari Jumat 26 Maret 2019 jam 13.45. Cuaca saat itu mendung. Info dari orang basecamp bahwa 3 hari terakhir juga hujan turun terus. Dan kami memang sudah mempersiapkan hal tersebut.

Basecamp – Pos 1

Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 masih cukup landai, melalui beberapa candi seingat saya. Di perjalanan juga saya menemukan 2 titik pipa air yang bocor, jadi bisa digunakan untuk minum.

Saya sampai di pos 1 tepat jam 3 sore, sekitar 1 jam perjalanan dari basecamp dengan kondisi jalan santai dan daypack yang enteng, hehe.

Anyway, saya bukan tipe orang yang suka mendaki malam hari, jadi saya selalu usahakan tiba di camp area sebelum gelap. Plus saya juga menghindari harus membuka tenda saat hujan. Jadi manajemen waktu adalah hal yang paling saya perhatikan setiap mendaki.

Baca : Objek wisata Dieng yang tersohor.

Pos 1 – Pos 2

Tak banyak waktu istirahat, saya dan Andri melanjutkan perjalanan. Mungkin kalau kamu mencari informasi jalur pendakian gunung Lawu via Cetho, foto-foto yang banyak muncul adalah foto-foto savana yang indah.

Yap bener kok, memang indah banget. Tapi itu bisa dijumpai setelah pos 5 nanti. Sedangkan jalur dari pos 1 hingga pos 4 adalah jalur hutan rapat, dengan tanjakannya yang cukup bikin keringat mengalir, haha.

Makanya di pendakian hari pertama saya ngga banyak mengambil foto sekitar, karena masih menyesuaikan tubuh dengan trek pendakian. Emang lumayan bikin ngos-ngosan nih jalurnya, hahaha.

Perjalanan dari pos 1 – pos 2 juga kami tempuh dalam waktu 1 jam. Tepat di jam 4 sudah mendarat di pos 2, dan bertemu rombongan 3 orang.

Oiya, jalur Cetho memang relatif lebih sepi dibanding via Cemoro Sewu atau Kandang, dikarenakan jarak tempuhnya yang cukup jauh. Selain itu, saya juga memulai pendakian hari Jumat, bukan weekend.

Pos 2 – Mata Air Pos 3

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Di antara pos 2 dan pos 3 ada 1 titik pipa bocor lagi, jadi bisa dimanfaatkan untuk minum. Selain itu trek juga semakin “lumayan”, jadi kami lebih banyak istirahat.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan cuaca sangat cerah. Ngga di duga-duga, padahal awal pendakian cuaca sudah mendung, dan info orang basecamp bahwa 3 hari terakhir turun hujan.

Saya benar-benar menikmati pendakian kali ini. Manajeman waktu yang efisien, cuaca yang cerah, plus kondisi jalur yang sepi, membuat saya lebih menikmati suasana hutan gunung Lawu.

Tiba di mata air sebelum pos 3 tepat jam 5 sore.

Naik sedikit, ada spot cukup enak untuk mendirikan tenda Merapi Mountain Firebird kesayangan saya. Jadi kita putuskan bermalam disana, agar ngga terlalu jauh juga dari sumber air. Pos 3 masih di atas, tapi ngga jauh kok. Paling 10 menit perjalanan naik.

Dari balik rerimbunan pohon, terlihat semburat oranye menciptakan garis di langit. Subhanallah, sunset sore itu sangat indah. Benar-benar indah. Sudah lama saya ngga melihat yang seperti itu.

Sayang saya ngga mengabadikannya, karena ngga memungkinkan. Ngga ada tempat terbuka untuk mengambil spot gambar yang bagus.

Ngga banyak aktivitas di malam hari. Karena baik saya maupun Andri memang sama-sama bukan tipe orang yang suka begadang malam di gunung. Selesai makan malam, jam 8 kita sudah terlelap.

Benar-benar istirahat berkualitas.

Pos 3 – Pos 4

Pagi hari kedua, Sabtu 27 Maret 2019, disambut matahari pagi yang cerah dan suasana yang tenang. Kebetulan di sekitar kami cuma ada 3 tenda saja.

Selesai sarapan dan beres-beres yang ngga membutuhkan waktu lama, tepat jam 8 kita sudah mulai perjalanan. Itulah enaknya kalau pendakian mandiri, lebih praktis dan efektif.

Perjalanan pos 3 ke pos 4 seingat saya adalah yang terjauh. Ditambah medan pendakian yang semakin aduhai, hehe. Keadaan sekitar masih di dominasi oleh hutan yang rapat.

Selama perjalanan hari kedua kami ditemani burung jalak yang sudah menjadi ciri khas Lawu. Sudah banyak cerita tentangnya. Akhirnya saya mengalaminya sendiri. Mereka seolah menuntun saya.

Bahkan tak jarang mereka ikut berjalan di jalur pendakian, di depan saya dan Andri. Yap, mereka tak sungkan berdekatan dengan para pendaki.

Matahari semakin terik. Kiri-kanan masih rapat, tapi sudah berganti dengan tanaman yang lebih pendek, jadi bagian atas sudah terbuka. Panasnya mentari membuat stamina lebih cepat terkuras.

Istirahat di jalur pos 3 ke pos 4 Lawu
Spot istirahat kami

Kami sempat beberapa kali beristirahat agak lama. Meneguk air, atau mengunyah cokelat sebagai penambah tenaga. Waktu hari kedua ini sangat longgar sebenarnya. Jadi perjalanan juga sangat santai.

Tiba di pos 4 sekitar jam 9.40 pagi. Masih pagi, dan masih sepi. Jam segini, mayoritas pendaki dari Jakarta biasanya baru tiba di stasiun, atau baru perjalanan ke basecamp. Sedangkan kami sudah di pos 4, hehe.

Tapi sayang kondisi shelter pos 4 yang penuh dengan sampah peninggalan pendaki-pendaki tak bertanggung jawab. Pantaslah kalau banyak basecamp pendakian yang kini melarang pendaki membawa tisu basah.

Karena sampah terbanyak memang berasal dari tisu basah, yang sangat sulit untuk terurai di tanah. Tumpukan sampah yang ditinggalkan oleh para manusia-manusia ber-otak lebih sampah !

Baca : Menikmati Merapi dari Ketep Pass.

Pos 4 – Pos 5

Tepat jam 10 kami melanjutkan pendakian ke pos 5. Kalau melihat dari peta, jarak tempuh ke pos 5 juga cukup jauh, tapi waktunya lebih singkat karena mulai banyak jalur yang landai. Alhamdulillah.

Di perjalanan menuju pos 5 juga mulai banyak ditemukan batuan-batuan raksasa di tebing, menandakan bahwa jalurnya berada di punggungan. Hawa mulai lebih dingin, sesekali kabut datang menghampiri.

Jalur menuju pos 5 Lawu via Cetho
Jalur menuju pos 5

Perjalanan menuju pos 5 mulai di dominasi areal terbuka, savana hijau yang indah, dan lembah-lembah yang berselimut kabut. Suasana sangat tenang saat itu. Sepanjang jalur dari camp area pos 3 kami sendirian.

Benar-benar tidak bertemu dengan pendaki lain. Benar-benar hanya kami dan alam. Sangat tenang dan menyejukkan. Saya benar-benar menikmati saat-saat itu. Berkali-kali kami berhenti hanya untuk sekedar menikmati.

Jalur sebelum bulak peperangan
Sebelum bulak peperangan

Foto di atas adalah spot sebelum masuk Bulak Peperangan. Sebuah jalur cekungan yang kanan kirinya diapit bukit, diselimuti savana hijau yang sangat indah. Gunung Lawu via Cetho begitu indah bro !

Kami tiba di pos 5 sekitar jam 11 siang, bertemu dengan 2 rombongan pendaki. Mereka berangkat di hari Jumat, namun lebih pagi dari kami, dan mereka langsung bermalam di pos 5.

Pos 5 – Gupakan Menjangan

Dari pos 5 ke Gupakan Menjangan ngga terlalu jauh, sekitar 30 menit saja. Dan jalurnya pun landai, dengan kanan kiri pemandangan savana rumput yang sangat hijau, karena masih sering hujan.

Bekas kebakaran di akhir 2018 lalu juga sudah mulai membaik. Hanya tersisa sedikit titik-titik yang masih menghitam. Selebihnya sudah hijau.

Gupakan Menjangan adalah sebuah lahan landai dengan hutan pinus yang rapat dan teduh, sehingga nyaman digunakan sebagai tempat berkemah. Tepat di depannya terhampar pemandangan yang indah.

Pos Gupakan Menjangan Lawu
Gupakan Menjangan yang kosong

Tiba di Gupakan Menjangan sekitar jam 11.30 siang dengan cuaca yang sangat cerah dan terik. Kondisi disana kosong. Ngga ada satu pun tenda. Benar-benar suasana dan pemandangan yang epic !

Pendakian gunung Lawu via Cetho
Pemandangan depan tenda

Lihat penampakan di depan tenda kami. Benar-benar sepi, sendiri, ditemani pemandangan semacam ini. Yakin ngga mau ke sini ? Hehehe.

Kami bersantai-santai. Waktu luang masih sangat banyak. Kami menyempatkan untuk masak makan siang dan tidur sekitar 30 menit. Yap benar. Kami tidur siang dengan semilir angin yang sejuk.

Gupakan Menjangan – Hargo Dalem

Setelah tenaga kembali pulih, badan sudah segar, kami memutuskan untuk ke puncak siang itu. Kami memang bukan pemburu sunrise, jadi ngga harus ke puncak di pagi hari. Kami lebih menikmati perjalanannya, daripada sekedar berburu foto di plang puncak gunung.

Tujuan selanjutnya adalah Hargo Dalem, tempat orang-orang biasa berziarah, dan juga tempat warung legendaris mbok Yem berada. Warung nasi pecel ini adalah yang tertinggi di Indonesia.

Perjalanan ke Hargo Dalem melewati savana, kemudian naik menyusuri tepi punggungan bukit, memutar hingga bertemu dengan Pasar Dieng. Dari sini sudah terlihat pemukiman warung-warung di Hargo Dalem.

Tiba di Hargo Dalem sekitar jam 13.30. Waktu perjalanan cukup 1 jam saja, karena kami cuma membawa 1 tas yang berisi air minum saja. Lagi-lagi di sepanjang perjalanan kami tidak bertemu pendaki lain.

Sampai di Hargo Dalem, kami bertemu dengan “kehidupan”, hehe. Banyak pendaki lain disana yang berasal dari jalur Semoro Sewu atau Kandang.

Warung nasi pecel mbok Yem di Lawu
Warung pecel legendaris

Saya sempatkan untuk makan nasi pecel legendaris mbok Yem, dan rasanya memang enak. Ah, mimpi apa saya bisa makan nasi pecel di ketinggian sekian ribu meter di puncak gunung.

Hargo Dalem – Hargo Dumilah

Saya makan siang 2 kali ya, haha. Pendakian yang sangat santai dan makmur. Bahkan saya pun membeli 2 botol air tambahan sebagai stok karena cerukan air di Gupakan Menjangan ternyata kering.

Setelah cukup istirahat, saya dan Andri memutuskan untuk lanjut ke puncak. Saat itu tepat jam 14.00. Saya ngga mau kembali ke Gupakan Menjangan saat malam hari. Seperti yang saya bilang, saya ngga suka pendakian malam. Gelap, dingin. Apa enaknya ?

Perjalanan menuju Hargo Dumilah ngga terlalu jauh. Total waktu tempuh sekitar 30 menit saja, dengan jalur tanjakan berupa tumpukan bebatuan kecil, seperti jalur awal di kawah Papandayan.

Di pertengahan jalur ternyata hujan, gerimis tapi cukup deras, dan disertai kabut. Jadi kami memutuskan untuk memakai jas hujan. Untung di bawa.

Dan Alhamdulillah, tepat jam 14.30 saya dan Andri menginjakkan kaki di puncak Hargo Dumilah gunung Lawu. Dan lagi-lagi kondisi di puncak sepi, ngga ada orang satu pun. Ditambah kabut yang pekat.

Tapi tak mengapa, bukan masalah bagi saya. Seperti yang saya bilang, saya bukan pemburu puncak. Saya tetap menikmatinya sebagai satu kesatuan perjalanan saya mendaki gunung.

Puncak Hargo Dumilah gunung Lawu
Puncak hargo Dumilah

Terakhir saya berfoto seperti ini dengan orang yang sama adalah saat kami mendaki gunung Manglayang di Bandung beberapa tahun silam, hehe.

Pendakian puncak gunung Manglayang
Puncak Manglayang

Ternyata posisinya sama ya, hehe. Setiap gunung selalu mempunyai ceritanya sendiri. Pun demikian dengan gunung Lawu via Cetho ini.

Suasana di puncak berkabut, meskipun gerimis sudah berhenti. Ngga lama ada serombongan pendaki asal Blora yang juga sampai di puncak. Kami ngobrol-ngobrol sejenak, ternyata mereka naik dari jalur Cemoro Sewu.

Kembali ke Tenda

Tak berlama-lama di puncak, saya dan Andri bergegas turun tepat jam 14.30. Gerimis sudah berhenti, tapi kabut masih rapat di puncak. Perjalanan turun pun sangat santai, karena waktu masih sangat longgar.

Mulai mendekati Gupakan Menjangan, cuaca berubah cerah. Savana hijau yang baru saja diguyur gerimis terlihat semakin hijau, dipadu dengan kabut-kabut berlarian diatasnya. Keren ? Banget !

Padang savana sebelum Gupakan Menjangan
Sebelum Gupakan Menjangan
Savana hijau dan kabut di Gupakan Menjangan
Savana hijau dan kabut

Lihat ? Masih juga sepi, serasa gunung milik kami saja. Hahaha. Tapi kali ini saya banyak berjumpa dengan rombongan dari bawah. Kebanyakan mereka naik tadi pagi, dan berniat camp di Hargo Dalem.

Kenapa begitu ? Kebanyakan dari mereka berencana turun via Kandang atau Sewu, yang lebih pendek jalurnya jadi lebih mudah. Jarang pendaki yang naik & turun via Cetho. Karena memang lumayan capek.

Sebenarnya banyak pemandangan yang lebih bagus, dan saya abadikan lewat potongan-potongan video. Niatnya sih bikin video catatan perjalanan, tapi males ngeditnya, jadinya terbengkalai, haha.

Kami tiba kembali di camp area Gupakan Menjangan tepat jam 16.30 sore, dengan mentari bersinar cerah dan hawa yang hangat. Terbaik pokoknya. Saat pertama sampai, kondisi area camp masih kosong.

Camp area gupakan menjangan
Camp area masih kosong

Baru menjelang Maghrib mulai banyak pendaki berdatangan dan mendirikan tenda di Gupakan Menjangan. Semakin malam semakin ramai, baik yang berhenti di Gupakan atau lanjut ke Hargo Dalem.

Malam kedua kami lalui seperti malam pertama. Makan malam dengan nikmat, mengobrol sebentar, dan terlelap sekitar jam 8 malam. Berkualitas.

Perjalanan Turun

Pagi hari ketiga, Minggu 28 Maret 2019 disambut dengan matahari cerah. Semalam sempat gerimis tapi ngga lama. Jadi pagi ini bau tanaman basah, bau hujan, sangat khas sekali di gunung.

Kami bangun sekitar jam 6 pagi. Disaat yang lain sibuk bersiap diri untuk ke puncak, saya dan Andri sih santai. Kan kemarin sudah ke puncak, hehe. Pagi ini saya sarapan sembari memandang ini :

Sarapan hari terakhir di Lawu
Sarapan hari ketiga

Wah, asli enak banget ! Sarapan pagi sambil berjemur di depan tenda, dengan pemandangan super keren. Asli gokil banget ini mah, hahaha.

Pagi ini kami masih saja bersantai, karena memang semua masih on schedule. Kami masih sempat menjemur beberapa peralatan sebelum akhirnya packing ke dalam tas masing-masing.

Perjalanan turun ke basecamp dimulai jam 09.00 tepat. Ngga banyak waktu istirahat dan waktu tempuh pun relatif lebih cepat. Kami beristirahat lama di mata air pos 3. Dan sayangnya, sakit lutut saya kembali kumat.

Jadinya dari pos 3 ke basecamp perjalanan turun melambat, dan di pos 1 pun hujan turun. Untung masih on schedule, kalau di total hanya molor 1 jam saja. Kami sampai di basecamp tepat jam 13.30 siang.

Setelah laporan ke basecamp, kami lanjut perjalanan balik ke Karanganyar, sempat berteduh sekitar 1 jam di dekat terminal Karangpandan karena hujan yang turun sangat deras.

Tiba di Karanganyar jam 4 sore, langsung bersih diri dan packing ulang peralatan, saya kembali ke stasiun Solo Balapan di antar oleh Andri. Kereta pulang saya berangkat jam 7 malam tepat.

Alhamdulillah, tiba kembali di Bandung Senin 29 Maret 2019 pukul 04.00 pagi, dan bisa lanjut kerja. Meskipun kerjanya juga di rumah sih, hehe.

Penutup

Nah, itulah sedikit cerita pendakian saya ( Rizki Alief Irfany ) kali ini. Selain cerita, saya rinci juga beberapa hal yang barangkali bisa bermanfaat untuk Anda, diantaranya biaya, itinerary, dan menu makanan.

Biaya total :

  • KA Lodaya PP 500.000.
  • Ojek online di Bandung PP 25.000.
  • Belanja logistik pribadi 85.000.
  • Makan diluar pendakian 65.000.
  • Simaksi pendakian 15.000.
  • TOTAL 690.000.

Menu makan di gunung :

  • Jumat malam : nasi + mie rebus.
  • Sabtu pagi : Oatmeal & biskuit gandum.
  • Sabtu siang : Bubur & pecel mbok Yem.
  • Sabtu malam : Nasi + mie goreng.
  • Minggu pagi : Spagheti instan.
  • Bawa snack sosis siap makan.
  • Bawa snack biskuit gandum.
  • Bawa cokelat Delfi batang.

Itinerary pendakian :

  • Basecamp – Pos 1 : 13.45 – 15.00
  • Pos 1 – Pos 2 : 15.00 – 16.10
  • Pos 2 – Pos 3 : 16.10 – 17.00
  • Camp di pos 3 semalam
  • Pos 3 – Pos 4 : 08.00 – 09.40
  • Pos 4 – Pos 5 : 10.00 – 11.00
  • Pos 5 – Gupakan : 11.00 – 11.30
  • Camp di Gupakan Menjangan
  • Gupakan – Hargo Dalem : 12.30 – 13.30
  • Hargo Dalem – Puncak : 14.00 – 14.30
  • Turun Gupakan – basecamp : 09.00 – 13.30

Pendakian 3 hari 2 malam itu enak, benar-benar enak. Lihat aja logistik yang saya bawa, ngga banyak kan ? Yang penting perhatikan gizinya. Selain menu di atas, saya juga bawa sosis dan coklat batangan.

Suatu hari, saya pasti balik lagi ke gunung Lawu via Cetho. Suasananya, medan pendakiannya, semuanya bikin saya kangen. Mau ikutan ?

Review Artikel Ini

Kualitas isi & gaya bahasa artikel :

Isi Form Feedback

Berikan alasan Anda memberikan review rendah

Komentar Pembaca . . .

  1. Keren mas… Terus menulis berbagi pengalaman mendakinya mas….

    • Wah ada kang Taufik mampir. Alhamdulillah, terima kasih kang support nya. Semoga sehat & sukses selalu.

Yakin Ngga Mau Komen ?