Aku Rela Menembus Hujan dan Dingin Demi Puncak Gede Pangrango Yang Indah

Sebuah catatan perjalanan menuju Gede Pangrango.

Penat dengan pekerjaan, saya mengajak partner berpetualang saya yang selalu setia yaitu Mas Revo untuk jalan – jalan. Jalan – jalan yang jauh, ke tempat yang luas, mungkin menikmati hijaunya bukit atau birunya laut. Saya seperti biasa tidak mempunyai rencana matang, let it flow saja.

Kebetulan Mas Revo juga ngikut saja katanya. Jadilah kami memacu kuda besi kesayangan menuju Cipanas, Cianjur.

Hari itu masih pagi, udara masih sejuk dan belum terlalu macet. Errrrr, koreksi, sebetulnya jalanan sudah lumayan macet saat itu.

Setelah melewati dan menuruni Puncak, memasuki wilayah Cipanas, kami menemui perkebunan yang hijau menghampar dengan latar gunung yang menjulang. Rumah warga terlihat sangat asri dengan pohon bonsai yang besar. Saya terpukau melihatnya. Benar – benar bonsai besar dan indah.

Biasanya yang saya lihat selama ini adalah bonsai yang mungil atau paling tidak tingginya tidak sampai 100 Sentimeter. Kami merasa seperti melewati rumah – rumah di Jepang. Singkat cerita, sekitar jam sepuluh pagi kami sampai ke Kebun Raya Cibodas.

Objek wisata ini yang pertama kali terpikirkan oleh kami yang asal jalan saja waktu itu. Tapi sayang, ketika sampai di pintu 3 kalau tidak salah, ternyata akses masuknya ditutup karena ada tanah longsor.

Sedikit kecewa, tapi kami tidak berhenti sampai di situ. Atas petunjuk dan arahan dari petugas setempat, kami disarankan untuk lewat pintu lain. Baiklah, ternyata kita masih harus terus berpetualang.

Kami meneruskan perjalanan mencari pintu masuk yang lain. Ketika itu saya melihat plang hijau yang menuliskan jalur ke Gede Pangrango.

Saya sangat excited demi melihat itu semua. Dengan sedikit membujuk partner saya ini, jadilah kami menuju Gunung Gede Pangrango.

Asal tahu saja, saya sudah memimpikan suatu hari untuk mendaki Gede Pangrango, sebuah gunung di tengah kota yang jadi salah satu destinasi wisata di Jawa Barat. Melihat edelweiss di Alun – alun Suryakencana atau meresapi angin Mandalawangi seperti kata Soe Hok Gie.

Menembus hawa dingin khas dataran tinggi, kami menuju Gede Pangrango. Waktu itu saya tidak punya persiapan khusus mendaki. Boro – boro bawa carrier, saya cuma memakai sandal jepit, kemeja dan celana jeans. Betul – betul tidak recommend untuk naik gunung.

Sampai di lokasi, kami menuju parkiran dan tidak disangka ternyata di lokasi yang sama adalah pintu masuk Kebun Raya Cibodas. Tapi dibandingkan dengan Gede Pangrango, saya sudah kurang mempunyai minat untuk ke Kebun Raya, mungkin lain kali saja lah ya.

Kami menuju pintu masuk Gede Pangrango, di basecamp harus membayar tiket sekitar Rp 18.000 untuk naik. Oh ya, bagi yang ingin perjalanan jarak pendek bisa kok hanya ke air terjun Cibereum.

Sempat bertanya kepada petugas, katanya untuk mencapai air terjun hanya butuh waktu satu jam perjalanan santai. Dalam hati saya pasti bisa mencapai setidaknya setengah perjalanan yang berarti butuh waktu sekitar 3 jam.

Baca : Berani masuk ke perut bumi di Goa Buniayu ?

Kami memulai pendakian kami dengan tidak ada perbekalan sama sekali, air minum hanya satu botol kecil. Benar – benar tidak disarankan untuk seperti ini karena jika kita dehidrasi atau kedinginan itu akan sangat berbahaya.

Jalanan yang berbatu dan membentuk tangga ini pun membuat saya kewalahan. Saya benar – benar tidak menyukai kondisi jalan yang seperti itu.

Jalannya mirip dengan jalur Lawu via Cemoro Sewu. Apalagi dengan sandal jepit dan celana jeans membuat perjalanan saya terasa melelahkan.

Kaki juga beberapa kali terantuk batu tapi saya hanya diam saja walaupun sakit. Karena kalau saya mengeluh bisa – bisa dimarahi oleh mas Revo karena sedari awal sudah meminta saya untuk memakai sepatu.

Beberapa saat kemudian kami melewati Telaga Biru. Berfoto sebentar lalu kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami sempat galau saat itu karena cuaca yang awalnya cerah perlahan mendung. Tapi kepalang tanggung untuk turun. Paling tidak saya harus sampai ke air terjun.

Melanjutkan perjalanan hingga melewati kayu – kayu yang ditata rapi menyerupai jembatan. Saya heran kenapa bisa di tempat tinggi seperti ini ada jembatan kayu, bagaimana mengangkut kayunya untuk sampai ke atas.

Oke, lanjut lagi, kami terus berjalan sampai saya sudah merasa tidak kuat lagi. Padahal gemericik air terjun sudah terdengar. Cuaca juga semakin tidak bersahabat dan mendung gelap. Lalu akhirnya kami memutuskan turun.

Di perjalanan turun kami masih saja sempat untuk foto – foto sebentar di jembatan yang berlatar bukit hijau menjulang. Perjalanan turun tentunya tidak sesulit waktu naik, tapi juga tidak mudah.

Apalagi waktu itu sudah mulai gerimis dan akhirnya hujan yang walaupun tidak deras tapi tetap saja membuat jalanan jadi licin. Saya berusaha berjalan dengan cepat dengan dibimbing mas Revo.

Kami sempat panik waktu itu karena tidak memakai mantel hujan dan HP yang kami bawa juga hanya dimasukkan ke kantong celana. Setelah sekitar 45 menit kami berjalan akhirnya sampai juga di tempat pembelian tiket. Lega juga rasanya walaupun badan kami basah kuyup.

Setelah sampai parkiran, kami istirahat sebentar, membeli gorengan dan kopi hangat. Nikmat sekali di tengah hawa dingin yang terasa.

Setengah jam beristirahat, kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta karena takut kemalaman. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. Kami pulang menembus hujan dengan membawa kenangan Gede Pangrango.

Baca : Keunikan Kampung Naga Tasik.

Kami belum melihat edelweiss, tapi perjalanan panjang bersama partner yang menyenangkan itu benar – benar berharga dan menjadi memori tersendiri. Sampai jumpa lagi Gede Pangrango di kesempatan selanjutnya.

Angesti Yustika

Yakin Ngga Mau Komen ?

Yuk diskusi cerdas. Gunakan nama asli agar komentar Anda disetujui.