Serunya Liburan dan Menyatu Dengan Suasana Alam Kampung Naga Tasikmalaya

Kebudayaan Kampung Naga Tasikmalaya tak ubahnya seperti suku Baduy yang mendiami sebagian wilayah Banten, masih sangat alami dan tak tersentuh kemajuan teknologi.

Penduduknya pun masih sangat memegang teguh adat istiadat dan tradisi. Namun, di balik kearifan lokal tersebut, kampung ini menyimpan banyak hal yang menarik untuk ditelusuri.

Sejarah Kampung Naga

Hingga saat ini, belum ada titik terang soal awal mula berdirinya Kampung Naga di masa lalu. Semua hanya merujuk pada penuturan masyarakat setempat. Di antara banyak versi sejarah yang berkembang, ada satu versi yang menyebutkan bahwa penemuan Kampung Naga berkaitan dengan masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah.

Kala itu, Syeh Syarif Hidayatullah yang juga dikenal dengan Sunan Gunung Jati memerintahkan seorang muridnya, Singaparana, untuk menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Barat. Kemudian, dalam perjalanannya, beliau singgah di sebuah desa yang kini dikenal dengan nama Desa Neglasari.

Di desa ini, Singaparana menghabiskan waktunya untuk bersemedi. Ketika bersemedi, ia mendapatkan petunjuk bahwa ia harus tinggal di suatu tempat ( kini dikenal dengan nama Kampung Naga ). Akhirnya, ia memutuskan untuk menjalani hidup di Kampung Naga dan meneruskan dakwahnya di sana.

Penamaan tempat wisata Jawa barat ini sendiri sebenarnya tak ada kaitannya dengan kebudayaan Cina. Pasalnya, julukan tersebut berasal dari frasa Sunda asli, yakni Na Gawir yang artinya berada di jurang. Hal tersebut sesuai dengan letak Kampung Naga yang memang berada di kaki bukit.

Meski demikian, akses jalan menuju kampung ini tidaklah sulit. Sebab, lokasinya tak seberapa jauh dari jalan raya yang dilintasi kendaraan besar.

Wisata Kampung Naga Tasikmalaya

Aktivitas di Kampung Naga
Kampung Naga by Travel.detik.com

Sebelum memasuki kawasan ini, Anda perlu melapor dulu kepada petugas yang berjaga di pos “Selamat Datang”. Kemudian, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menuruni lintasan sempit yang terdiri dari 439 anak tangga yang sudah ditembok.

Jika diukur, panjangnya sekitar 500 meter dan lebarnya sekitar 2 meter, cukup melelahkan terutama bagi Anda yang jarang berolahraga atau tak kuat berjalan jauh.

Selesai dengan 439 anak tangga, ada jalan setapak yang harus Anda susuri. Untungnya, perjalanan Anda ditemani gemericik air sungai Ciwulan dan pemandangan asri berupa permadani alam yang terhampar luas.

Di antara karpet tebal itu, berdiri rumah-rumah warga yang bentuk dan konstruksinya di buat seragam, mulai dari bahan dasar, ornamen, potongan bangunan hingga arah menghadapnya.

Rumah-rumah tersebut berjajar rapi menghadap ke arah utara dan selatan. Namun, ada pula yang menghadap ke arah barat dan timur, di antaranya ialah Masjid, bale pertemuan, dan lumbung padi.

Pertama kali melihat bangunan rumah di sini, Anda akan dibuat terpukau dengan tata letaknya yang sangat rapi. Tak hanya itu, gaya arsitekturnya juga tak biasa. Desainnya mirip rumah panggung, namun dengan fondasi yang lebih sederhana.

Bahan yang digunakan untuk menopang bangunan adalah batu berukuran 20 x 60 cm yang diletakkan di bawah panggung.

Di dalamnya, pola ruangan di bagi ke dalam 2 petak dengan ventilasi udara dan cahaya yang cukup memadai. Bagian depan di beri dua pintu untuk mengakses ruang tengah dan dapur.

Sementara di bagian tengah, ruangan dibiarkan kosong tanpa furnitur. Hal tersebut ditujukan agar para tamu yang singgah bisa duduk sejajar dengan penghuni rumah.

Seperti halnya rumah panggung yang lain, rumah panggung di sini juga terbuat dari kayu, daun nipah, bambu, ijuk dan alang-alang.

Kayu yang digunakan pun tidak sembarangan. Biasanya jenis kayu yang dipilih adalah jenis Albasiah, karena tidak mengandung getah. Sementara, untuk daun pintu, warga biasanya menggunakan kayu manglid.

Sebagai pengganti genteng, warga menggunakan daun nipah, ijuk, serta alang-alang untuk melindungi rumah dari guyuran hujan dan panasnya sinar matahari. Bukan hal sepele, penggunaan daun nipah juga punya tujuan tersendiri, diantaranya untuk membuat rumah terasa lebih sejuk.

Berbeda halnya dengan konstruksi ruang tengah, material yang digunakan untuk membangun dinding dapur bukan lagi kayu Albasiah ataupun kayu Manglid, melainkan bambu yang dianyam secara horizontal dan vertikal.

Pemilihan bambu sebagai bahan dasar dinding dan lantai dapur bertujuan untuk memudahkan asap keluar lewat celah-celah bambu. Dengan demikian, penghuni rumah tak perlu merasa khawatir akan asap tungku yang bergumul di dalam rumah.

Selain itu, lantai dapur yang di buat bercelah juga bertujuan agar sisa makanan langsung di buang ke bawah. Bagian bawah biasanya area kosong yang dijadikan sebagai kandang hewan. Sehingga membuang sisa makanan ke bawah sama saja memberi makan hewan ternak.

Baca : Pantai Ujung Genteng Sukabumi.

Kesederhanaan Dalam Bilik Rumah

Bentuk rumah adat di Kampung Naga
Rumah panggung by Ekasiregar.com

Masyarakat Kampung Naga Tasikmalaya hidup sangat sederhana tanpa penerangan, listrik maupun gas LPG. Bukan karena tidak di fasilitasi, melainkan memang ingin hidup seperti itu.

Tetapi, ada juga diantara mereka yang sudah memiliki televisi. Televisi tersebut dinyalakan bukan dengan listrik lho, tetapi menggunakan aki.

Sepintas, kampung ini mungkin terkesan jauh dari kata makmur, namun kenyataannya warga Kampung Naga justru hidup bahagia. Kesederhanaan tersebut membuat mereka hidup dengan nyaman dalam suasana yang rukun dan harmonis. Wah, patut ditiru, nih.

Baca : Ini alasan kenapa harus liburan ke Pangandaran.

Keseharian Warga

Aktivitas warga di Kampung Naga
Aktivitas warga by Youtube.com

Bila menyambangi Kampung Naga, Anda tak hanya disodori kearifan lokal yang tercermin dari rumah-rumah penduduknya, melainkan juga aktivitas keseharian para penghuninya.

Anda bisa menyaksikan secara langsung kelihaian masyarakat Kampung Naga dalam memproses batok kelapa dan bambu menjadi produk kerajinan tangan yang punya nilai ekonomis, seperti angklung, caping, perkakas dapur, dan sebagainya.

Selain itu, Anda juga bisa merasakan sensasi terapi ikan sembari melihat aktivitas petani yang menumbuk padi di tengah sawah. Menarik, kan ?

Lokasi destinasi wisata Kampung Naga berada di daerah desa Neglasari, Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Berburu pemandangan sembari mempelajari kearifan lokal yang selaras dengan alam adalah cara terbaik untuk menikmati liburan. Kampung yang terletak di Tasikmalaya ini jaraknya sekitar 238 km dari pusat kota Jakarta dan butuh waktu kurang lebih 5,5 jam untuk bisa tiba di sini.

Jika menggunakan kendaraan umum, Anda bisa naik bus dengan jurusan Singaparna dari terminal Kampung Rambutan. Sementara, jika menggunakan kendaraan pribadi, Anda bisa langsung tancap gas melewati rute Garut.

Nantinya, deretan warung dan tugu Kujang raksasa akan menyambut Anda di depan area parkir. Kalau lapar tinggal belok saja, ya.

Meski warga Kampung Naga Tasikmalaya terkenal ramah, namun ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan selama berwisata ke sini. Pertama, Anda harus meminta ijin dulu kepada empunya rumah jika Anda ingin memasukinya. Jangan langsung menyerobot lewat pintu, ya.

Kedua, kenakanlah pakaian yang sopan dan rapi.

Ketiga, jika mau bermalam, beritahukanlah kepada petugas yang berjaga. Dan terakhir, bawa perlengkapan secukupnya. Jangan lupa untuk membawa powerbank atau baterai cadangan agar bisa tetap mejeng di social media.

Selamat menjelajahi Kampung Naga !

Ayo Berikan Ulasan Anda

Berikan informasi dan penilaian terbaik Anda untuk membantu wisatawan lain yang berkunjung.